Penguatan Peran Keluarga Dalam Pendidikan Anak

By vegaensiklopedia10@gmail.com - 02.51


Oleh: Vega Ma’arijil Ula

            Definisi Keluarga menurut Wikipedia adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat dibawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan. Sedangkan menurut Arifin dalam Suhendra, Wahyu 2000:41, keluarga adalah suatu kelompok yang terdiri dari dua orang atau lebih yang dihubungkan dengan pertalian darah. Sederhananya keluarga terdiri dari ayah, ibu dan anak. Tiap-tiap anggota keluarga juga memiliki peran masing-masing. Ayah dan ibu selaku orang tua memiliki peran utama untuk mendidik anak. Begitu juga anak yang sudah seharusnya taat kepada orang tua.
Peranan orangtua dalam mendidik anak tentu amatlah penting. Karena keluarga sejatinya merupakan pintu utama terhadap pembentukan kepribadian anak sebelum menginjak dunia sekolah dan masyarakat. Dalam sebuah keluarga, orangtua berperan sebagai penghubung intern keluarga dengan masyarakat luar. Orangtua memiliki tugas sebagai seorang pendidik bagi anak, motivator, teman, guru, dan pemberi kepercayaan diri bagi anak. Keluarga adalah tempat awal masa kanak-kanak seorang anak, tempat mmembentuk emosional diri seorang anak, mennanamkan dasar pendidikan agama, memberikan motivasi bagi anak, menjaga kesehatan bagi anak, membentuk kepribadian di segala aspek, memberikan fungsi protektif.
Ki Hajar Dewantara pernah berkata bahwa Tri Sentra Pendidikan yaitu keluarga, satuan pendidikan, dan masyarakat. Artinya keluaraga adalah garda terdepan didalam memberikan peran untuk anak. Dapat kita lihat apabila orangtua kurang peduli terhadap anak. Maraknya kasus kenakalan remaja, tawuran, bolos sekolah, mencontek saat tes, mabuk-mabukan, main judi, perkelahian di sekolah, pulang larut malam, balapan liar, merokok dan terjerat narkoba. Kasus narkoba terbilang sangat riskan bagi anak-anak. Bahkan narkoba juga diedarkan dalam bentuk permen Sungguh sangat ironis.
Narkoba juga kerap merusak anak-anak yang seharusnya menjadi generasi penerus bangsa. Di tahun 2015, hingga bulan November pengguna narkoba mencapai 5,9 juta orang. Padahal di bulan Juni 2015 tercatat 4,2 Juta. Hal tersebut memperlihatkan kenaikan yang signifikan. Rinciannya adalah 620.345 Kg Sabu, 235 Kg Ganja, dan 580.141 Pil Ekstasi. Bahkan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menilai kasus narkoba semakin mengancam anak-anak. Jumlah pengguna narkoba dikalangan remaja naik menjadi 14 ribu jiwa dengan rataan usia 12 hingga 21 tahun. Jumlah yang juga terbilang fantastis mengingat data yang dikeluarkan oleh Badan Narkoba Nasional (BNN) dan Puslitkes Universitas Indonesia yang juga mencatat besaran pengguna narkoba diseluruh usia yang mencapai 5 juta, yang artinya angka tersebut 2,8 persen dari seluruh penduduk Indonesia di tahun 2015. Di tahun 2016, Pulau Jawa menempati urutan pertama jumlah pemakai narkoba terbanyak di Indonesia. Detailnya adalah Jawa (2.416,5 ribu), Sumatera (849,5 ribu), Sulawesi (267,6 ribu), Kalimantan (238,3 ribu), Bali dan NTT-NTB (169,6 ribu), Maluku (42,1 ribu) dan Papua (38,9 ribu).
Berbagai faktor turut menjadi aktor utama penyebab maraknya pengguna narkoba. Diantaranya orang tua yang terlalu sibuk dengan segala urusan pekerjaan, anak yang salah didalam pergaulan, teknologi yang memberikan dampak negatif, kurangnya pendidikan dari orangtua, kurangnya pemahaman akhlak agama, anak yang terlalu diberi kebebasan tanpa batas. Akan tetapi, selalu ada harapan untuk menjadi lebih baik dengan cara memberikan perhatian dan kasih sayang, memberikan kebebasan beserta pengawasnnya, dan orangtua harus membangun karakter anak.
Oleh karenanya, keluarga memiliki peranan penting dalam membangun karakter anak, karena keluarga adalah tonggak awal dalam membentuk kepribadian anak. Segi positif yang ada dalam lingkungan keluarga akan memberikan energi positif  juga kepada kepribadian dan perilaku anak. Kita tentu sudah banyak melihat sebuah keluarga yang tidak harmonis yang pada akhirnya memberikan dampak negatif terhadap anak-anaknya. Seperti anak-anak yang akhirnya memilih kehidupan diluar rumah. Apabila anak sudah merasa lebih nyaman diluar rumah, ia akan mencari kesenangan dalam bentuk apapun diluar rumah. Misalnya, kehidupan malam, main judi, minum-minuman keras, atau hal lain yang sejenak menurut mereka dapat melampiaskan rasa frustasi saat didalam rumah.
Tentu kondisinya akan berbeda apabila suasana rumah dan keluarga begitu harmonis. Anak tentu merasa nyaman berada didalam rumah. Sebuah kondisi yang menyenangkan mengingat orangtua dapat mengawasi langsung perkembangan dan perilaku anak. Dalam arti orangtua dapat menasehati anak disela-sela saat anak menonton televisi atau melakukan aktivitas lainnya didalam rumah. Sehingga anak dapat terhindar dari marabahaya hal-hal negatif.
Namun kita juga harus berfikir cerdas dan bijaksana dalam mendidik anak. Artinya peran orangtua juga tidak perlu secara otoriter membatasi pergerakan anak didalam rumah secara terus menerus dengan alasan agar terhindar dari hal-hal negatif, Seiring dengan berkembangnya waktu anak akan tumbuh menjadi remaja dan dewasa. Dalam hal ini, orangtua juga harus memberikan kebebasan yang bertanggung jawab atas apa yang dilakukan oleh anak. Pasalnya, anak juga harus mampu bersosialisasi diluar rumah, artinya anak tidak semata-mata menutup diri terhadap kehidupan sosial didalam bermasyarakat dan anti sosial. Kembali pada pokok bahasan awal adalah tergantung darimana peran orangtua terhadap anak. Anak adalah aset bangsa. Generasi penerus bangsa lahir demi sebuah tempat bernama keluarga. Sehingga sudah sepatutnya kita bergotong-royong guna memberikan asupan pendidikan yang baik dan bermanfaat bagi anak-anak. Karena Indonesia akan cerdas dan terus ada apabila generasi muda memiliki kepribadian yang ketat dan positif, yang tak lain lahir dari sebuah tempat bernama keluarga.

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar

Contact

Whats App
085640127128

Email
vegaensiklopedia10@gmail.com