Hilangnya rumah kami

By vegaensiklopedia10@gmail.com - 08.50

Oleh : Vega Ma'arijil Ula (VMU)

Museum. Jika kalian mendengar kata tersebut, pasti yang kalian bayangkan adalah tempat menyimpan benda-benda bersejarah. Memang benar jika kalian berkata demikian. Namun, bukan soal museum yang akan saya tulis. Kami anak-anak desa Getas menamakan Museum sebagai nama lapangan tempat kami biasa bermain bola. Kenapa kami menamakannya lapangan Museum? jawabannya adalah karena lapangan tersebut berada di halaman Museum Kretek, sebuah Museum tempat menyimpan rokok-rokok zaman dahulu, merk rokok pertama kali milik perusahaan yang bernama tiga bola (milik buyut teman SMA saya) ada di sini. Selain itu juga terdapat mesin penggiling rokok beserta tokoh-tokoh yang berjasa dalam pembuatan dan pemasaran rokok juga terdapat disini. Kembali ke lapangan Museum. Di lapangan Museum inilah setiap sore hari dan Minggu pagi kami bermain sepakbola, sebuah olahraga yang sangat populer didesa kami.Setiap sore dengan membawa bola tanpa harus mengenakan sepatu kami bermain dengan riang gembira. Kami semua berjumlah 10 orang. rata-rata masih SMP, termasuk saya sendiri waktu itu masih duduk di bangku 2 SMP. Untuk bermain olahraga ini, cukup dengan 5 lawan 5. Kami bermain seusai shalat  Ashar sampai menjelang Maghrib. Tawa dan canda selalu ada dalam wajah kami semua, tak ada rasa saling mengalahkan, yang tampak adalah wajah gembira dalam memainkan sikulit bundar.


Sampai suatu hari, tepatnya hari Minggu, kami mendapatkan tantangan dari desa sebelah. desa loram. Mereka mengajak kami untuk lawan tanding. Setelah berdiskusi dengan teman se-tim, akhirnya aku dan teman-teman sepakat untuk menerima tantangan mereka. Perlu kalian ketahui, pertandingan lawan tanding ini hanya untuk pertandingan persahabatan saja, tidak ada unsur judi dalam pertandingan ini.

Sampailah pada hari itu. Tim-ku mengenakan kaos bewarna putih. sedangkan tim desa loram menggunakan warna hitam. Pagi itum hujan turun dengan derasnya, namun justru hujan itulah yang membuat kami senang, biasalah jika bermain bola sambil hujan-hujanan terasa semakin seru. Kedua tim sepakat bermain dengan durasi 1x45 Menit dengan 10 lawan 10, sebagai wasitnya adalah Pak satpam yang menjaga Museum kretek. peluit babak pertama dimulai, kami tak menyangka permainan mereka benar-benar cepat dengan sekali sentuh. Mungkin karena hampir semua dari mereka tergabung dalam SSB PERSILO (Persatuan Sepak Bola Loram), tak sampai 15 Menit gawang tim kami yang di kawal oleh wahid kemasukan 3 kali. Tapi kamitak menyerah begitu saja, dengan bermain lepas tanpa beban disertai prinsip "kalah bukan masalah karena ini hanya permainan biasa" akhirnya kami bisa menyamakan kedudukan 1 gol diantaranya kusumbangkan untuk timku. Dimenit-menit akhir umpan panjang yang kuberikan pada Yunan yang tak lain adalah adik saya sendiri berhasil dimanfaatkan dengan sebuah header yang tak dapat dijangkau oleh kiper mereka. Gooool itulah seruan yang kami teriakan bersama-sama. Pada akhirnya peluit akhir dibunyikan, kami menang dengan skor 4-3. Sebuah hasil yang tidak kami sangka. Betapa tidak, kita melawan tim SSB yang setiap harinya mereka mendapatkan porsi latihan layaknya pemain profesional, sedangkan kami hanyalah tim kampung yang bermain bola tanpa sepatu dan tak mengerti bagaimana bermain bola yang baik dan benar. Tetapi itulah kenyataannya, kami memenangkan pertandingan ini. Seusai pertandingan, kami saling berjabat tangan sebagai tanda fair play. kami senang bisa memenangkan pertandingan tersebut, meski hanya pertandingan persahabatan saja.

Sebelum pulang, kami mengucapkan terimakasih kepada pak satpam yang telah bersedia menyempatkan waktunya untuk menjadi wasit. Beliau juga menyampaikan sesuatu kepadaku dan ke sembilan temanku. Sejenak raut wajah kami berubah seusai mendengarkan beberapa kata yang keluar dari mulut pak satpam. "Apa itu tandanya kita tak bisa bermain bola lagi pak?" tanya Yusuf salah satu temanku. Pak satpam menjawab, "ya, karena lapangan tempat biasa kalian bermain ini akan diubah menjadi taman bermain seperti dufan kecil-kecilan". Raut wajah kami semua menjadi tertunduk lesu. Bagaimana tidak, lapangan ini sudah seperti rumah kami sendiri. Disinilah kami bisa tertawa bersama, bermain bola bersama, merasa sudah seperti keluarga sendiri antar sesama teman, tetapi sebentar lagi kami tidak akan melakukannya bersama-sama lagi. Karena hari sudah sore dan sebentar lagi Maghrib menjelang, kami pun pamit dan kembali mengucapkan terimakasih kepada pak satpam.

Beberapa minggu setelah itu, benar adanya. Banyak truk-truk pengangkat material yang nantinya digunakan untuk membangun tempat bermain, sudah banyak pula pekerja yang mulai bekerja di lapangan Museum Kretek itu. Kabarnya, ini adalah program dari pemerintah ditempatku untuk membangun taman bermain. Kini, taman bermain itu telah berdiri di desaku, desa Getas pejaten. Banyak anak-anak yang mulai mengunjungi tempat itu, sekarang Lapangan tempat kami sudah tiada, yang ada hanyalah sebuah taman bermain lengkap dengan kolam renang, waterboom dan mini bioskop. Bagi anak-anak mungkin merasakan senang dengan hadirnya taman bermain itu, namun tidak bagiku dan teman-temanku. Karena dengan berdirinya taman bermain itu, kami tak bisa lagi bermain bola, karena lapangan itu adalah satu-satunya lapangan di desa kami. Tapi itulah kenyataannya, hingga saat itu sampai sekarang aku duduk dibangku kuliah, kami tak pernah lagi bermain bola.

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar

Contact

Whats App
085640127128

Email
vegaensiklopedia10@gmail.com